7 PESEPAKBOLA YANG PERNAH MENGGUNAKAN OBAT OBATAN TERLARANG

Pesepakbola profesional adalah atlet terbaik. Pada tingkat tertinggi, tubuh mereka dituntut untuk selalu fit dan sehat. Mereka harus menjalani serangkaian persyaratan diet ketat atau mengikuti latihan di pusat kebugaran. Itulah sebabnya didalam sepakbola modern, para pihak klub melarang keras pemainnya untuk mabuk berat atau mempunyai kebiasaan merokok.

Ok, kasus mabuk atau merokok adalah hal yang lumrah di telinga kita namun ternyata, terdapat beberapa pemain sepakbola yang pernah menggunakan narkoba atau doping di sepanjang karirnya. Biasanya, sebelum mengikuti pertandingan atau memasuki sebuah klub baru, pertama-tama para pemain tersebut harus menjalani serangkaian tes urine/obat untuk memastikan dirinya bukanlah seorang pecandu obat-obatan terlarang atau doping. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Apabila pemain tersebut berada di tingkat tertinggi, beberapa pemain tersebut akan menjalani test setiap minggunya. Namun apabila para pemain tersebut kedapatan menggunakan obat-obatan terlarang atau doping, maka pihak klub berhak untuk memberikan sanksi yang tegas atau bahkan memecat mereka.

Dan inilah 7 pesepakbola yang pernah menggunakan obat-obatan terlarang atau doping di sepanjang karirnya, diantaranya adalah:

  1. Diego Maradona


Mungkin kasus obat-obatan terlarang yang menyeret pesepakbola kelas dunia yang paling terkenal adalah kasus Diego Maradona. Maradona begitu dikenal di dunia lantaran memiliki bakat sepakbola terbaik yang pernah ada di jamannya. Dengan mempunyai kombinasi kecepatan, keseimbangan, keakuratan, keterampilan dan visi yang baik, membuatnya menjadi sosok ‘pahlawan’ Argentina ketika dirinya berlaga diatas lapangan. Namun dibalik gemerlapnya popularitas yang ia dapatkan, ternyata sang ‘anak emas’ dari Argentina ini memiliki sisi gelap. Maradona telah memiliki ketergantungan obat-obatan terlarang yang berat disepanjang hidupnya. Kasus pertama terjadi pada tahun 1991, ketika ia diskors selama 15 bulan lantaran kedapatan menggunakan kokain setelah dirinya mengikuti serangkaian tes ‘urine’. Kasus kedua terjadi saat usianya memasuki umur 34 tahun yang saat itu dirinya menjadi harapan besar bagi timnas Argentina pada Piala Dunia 1994. Setelah ia mencetak gol melawan Yunani pada ajang penyisihan babak grup, Maradona merayakan golnya di dekat kamera yang meliputnya dan banyak pihak yang melihat jika saat itu disekeliling mata Maradona terlihat merah. Setelah pertandingan tersebut usai, Maradona pun disuruh untuk melakukan tes ‘urine’ lalu hasilnya positif dan akhirnya ia dikirim pulang ke Argentina. Dia tidak bisa mengatasi kecanduan kokain sampai pada tahun 2005.

  1. Pep Guardiola


Ia dikenal sebagai salah satu pelatih terbaik Eropa saat menangani Barcelona dan sekarang, Bayern Munchen. Ternyata jauh sebelum dirinya menjadi seorang pelatih, rupanya Guardiola juga sempat mencicipi karirnya sebagai pesepakbola. Ia dikenal sebagai pemain yang berkelas dan mempunyai visi yang sangat besar. Namun pada tahun 2011, Guardiola gagal mengikuti serangkaian tes ‘urine’ lantaran terdapat nandrolene dalam sampelnya. Ia marah besar dan memperjuangkan perkaranya selama 6 tahun sebelum dirinya dibebaskan pada tahun 2007 dan ternyata tuduhan tersebut pun muncul setahun kemudian. Pada tahun 2009, ia dibebaskan sekali lagi.

  1. Adrian Mutu


Karir Adrian Mutu saat membela Chelsea adalah salah satu momen terbaik dalam sejarah sepakbola modern. Setelah bergabung dengan The Blues sebagai salah satu striker yang paling ditakuti di Eropa, ia membuat sejumlah kontroversi seperti pernah terlibat konflik dengan Jose Mourinho, gagal tes obat, pemutusan kontrak dan sejumlah gugatan negatif yang dilayangkan kepada dirinya. Saat dirinya sudah melakoni 27 laga bersama Chelsea, ia pun gagal tes obat dan sampelnya mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengkonsumsi kokain. Dia diskors selama 7 bulan dari sepakbola dan harus mengikuti serangkaian hukum yang berlaku. Mutu akhirnya bergabung ke Juventus sebelum hijrah ke Fiorentina, disini ia gagal mengikuti tes obat kedua lantaran kedapatan menggunakan doping. Lalu dirinya diskors selama 9 bulan dan dipecat dari klub. Sejak saat itu, Mutu bermain di sejumlah klub seperti Cesena, Ajaccio, Petrolul dan terakhir ia pensiun pada tahun 2014.

  1. Edgar Davids


Pemain lini tengah yang sangat berbakat, Edgar Davids dikenal sebagai gelandang tak kenal lelah dan mempunyai teknik yang luar biasa pula. Di masa keemasannya, ia adalah ‘roh’ lini tengah lapangan yang mampu menciptakan permainan dan memecahkan pertahanan. Masa kesuksesannya terjadi kala dirinya membela Ajax dan Juventus dimana ia memenangkan 3 Eredivisie, 3 gelar Serie A dan 1 trophi Liga Champions lalu ia juga melakoni 74 laga bagi Belanda. Pada tahun 2001 saat dirinya mengikuti pemeriksaan tes obat pertama, Davids kedapatan menggunakan nandrolone anabolic steroid. Setelah gagal mengikuti tes obat kedua, Davids dilarang bermain sepakbola selama 2 tahun tetapi ia berhasil lolos dengan menjalani masa larangan bermain 4 bulan saja. Dia pun lalu membela sejumlah klub besar seperti Barcelona, Inter Milan, Tottenham, Ajax, Crystal Palace dan Barnet sebelum dirinya menyatakan pensiun tahun lalu.

  1. Gary O’Connor


Setelah menjadi ‘anak emas’ dalam timnas Skotlandia, Gary O’Connor pindah ke Lokomotiv Moskow pada usianya yang ke-23. Ia adalah seorang striker yang berbakat namun tidak produktif, karirnya hancur pada tahun 2009 setelah gagal mengikuti tes obat saat membela salah satu klub Liga Premier, Birmingham City. O’Connor kemudian mengungkapkan apa yang terjadi, ia lalu menghabiskan uang senilai £ 4 juta yang ia dapat selama ini untuk mengobati kecanduannya lalu tinggal di sebuah rumah dewan. Kini dirinya sudah berusia 32 tahun dan bermain untuk klub kecil Skotlandia, Selkik FC. Ia masih berjuang keras untuk melawan kecanduannya dan pada tahun 2014, ia harus mendapat sejumlah hukuman karena kedapatan memiliki kokain.

  1. Jaap Stam


Jaap Stam meninggalkan Manchester United saat dirinya berada di peforma yang sangat baik pada tahun 2001, dan seminggu setelah pasca hengkangnya ia dari Setan Merah, Stam kedapatan menggunakan doping. Kuat, cepat dan memiliki teknik yang baik, Stam adalah salah satu bek terbaik di generasinya. Ia pernah memenangkan piala bersama PSV, Manchester United, Lazio, AC Milan dan Ajax serta melakoni 67 laga bersama Belanda. Stam protes dan menyatakan jika dirinya tidak bersalah sampai pada hari ini serta mengajukan naik banding atas putusan tersebut sebanyak 2 kali, namun FIFA melarang dirinya untuk tampil dalam pertandingan selama 5 bulan pada tahun 2002 setelah ditemukan zat nandrolone dalam sampel urinnya. Larangan tersebut akhirnya dikurangi menjadi 4 bulan dan Stam terus meniti karirnya sebagai bek terbaik di dunia.

  1. Mark Bosnich


Mantan kiper Manchester United, Aston Villa dan Chelsea, Mark Bosnich dikenal selalu membuat kontroversi yang besar disepanjang karirnya dan pada akhirnya ia pun harus hancur karena ulahnya sendiri. Mulai dari melakukan selebrasi ala Nazi ke arah fans Tottenham dan menggunakan kokain. Karirnya mulai meredup pada tahun 2003, dimana ia gagal mengikuti tes obat di Chelsea. Kecanduan Bosnich semakin parah karena ia pernah mengaku mengkonsumsi 10 gram kokain setiap harinya. Setelah kasusnya menyebar ke seluruh Liga Premier, sosoknya berubah menjadi pendiam dan cenderung menutup diri lalu menyatakan pensiun saat ia berusia 31 tahun.